Entah apa yang telah merasuki penulis tetap di situs LPPI Asuhan Said Samad, Ilham Kadir, hingga kemarin, 4 Desember, beliau menurunkan lagi sebuah tulisan lucu bertajuk “Sai Baba dan Ideologi Syiah Imamiah”. Seakan tak kehabisan akal untuk mencaci maki mazhab Islam Syiah, beliau berusaha mencocok-cocokkan Antara ajaran Sai Baba dari India, dengan salah satu mazhab besar di dalam Islam ini. [lppimakassar.net]Jika pada tulisan sebelumnya Ilham Kadir menyebut pengikut Syiah sebagai jahil murakkab, bodohnya orang bodoh, atau bodoh kuadrat, kali ini dia menembak orang yang menganggap Syiah itu sebagai bagian dari Islam. Dia mengatakan bahwa kesesatan Syiah sudah sangat terang, seterang mentari di hari cerah, seraya mengatakan bahwa  yang mengingkarinya adalah sufaha, kelompok yang sudah mengetahui kebenaran tetapi tetap menolaknya. Dengan demikian, penulis kelahiran Bone Sulsel ini telah menghina ulama seperti AGH Quraish Shihab, AGH Sanusi Baco, Prof Ahmad Sewang, Prof Kamaruddin Amin, AGH Mustamin Arsyad, Prof Ghalib, Sayyid Abdurrahim Assegaf Puang Makka, KH Sahib Karaeng Nompo, dan puluhan ulama di Sulawesi Selatan. Itu belum termasuk ratusan ulama di seluruh Indonesia bahkan ribuan di seluruh dunia.Ajaran Islam Syiah Tidak Sama Dengan Ajaran Sai BabaSungguh kebodohan yang nyata ketika Ilham Kadir menyamakan Islam Syiah dengan kepercayaan yang diajarkan oleh Sai Baba. Simplifikasi yang dilakukan seperti ini lahir dari keputusasaan atas hujjah. Hal itu juga lahir dari kebodohan melihat realitas dan membaca penjelasan ajaran. Atau kemungkinan yang paling mungkin, Ilham Kadir ketika menyebut sufaha, pada dasarnya beliau sedang menyebut diri sendiri. Artinya, sebenarnya beliau telah melihat kebenaran yang ada pada ajaran mazhab ahlulbait sebagaimana yang dilihat oleh ulama-ulama Sulsel (hanya sebagai contoh kecil saja), namun karena kesombongan, atau mungkin ada alasan lain, maka dia tetap menolak kebenaran itu. Menggunakan logika sederhana saja, betapa banyak ulama berkompeten di Sulsel yang mengatakan bahwa mazhab Syiah adalah bagian dari Islam, dan bahwa perbedaan Sunnah Syiah hanya perbedaan furu’ saja dan bukan yang hakiki. Lalu apakah kata-kata segelintir orang, termasuk Ilham Kadir dan Said Samad mesti kita dengar? Tentu saja kita tetap harus mendengar, namun harus kita garis bawahi bahwa mereka berdua, andaipun berkompeten, maka kompetensi mereka tentu masih sangat jauh dibandingkan dengan para professor dan ulama sepuh yang kami sebutkan di atas.Ilham Kadir menyebut kembali beberapa isu-isu yang sering dikritik di dalam ajaran Syiah dan menyebutnya sama dengan ajaran Sai Baba, misalnya konsep kegaiban dan raj’ah. Perlu diketahui, kedua konsep tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh ulama muktabar dari kalangan mazhab Syiah, tidak seperti yang dijelaskan oleh Ilham Kadir tersebut. Di dalam buku “Sunnah Syiah Bergandengan Tangan Mungkinkah” yang ditulis oleh AGH Quraish Shihab, pakar tafsir asal Sulsel ini menjelaskan masalah raj’ah di dalam keyakinan mazhab Syiah secara khusus di bab 10 pada halaman 185. Disitu AGH Quraisy, mengutip pendapat ulama Syiah mengenai hal tersebut seraya mengatakan bahwa, sebagaimana dengan kepercayaan hadirnya Nabi Isa as dan Imam Mahdi yang diyakini oleh sebagian pengikut ahlussunnah, percaya atau tidak percaya kepada raj’ah tidak mencederai akidah Islam seseorang (hal. 187)Usaha putus asa Ilham Kadir untuk menyamakan Antara ajaran Syiah dengan Sai Baba bisa disebut lahir dari amnesia teologis, historis dan sosiologis atas ajaran dan sejarah Islam. Dia lupa, atau kemungkinan besar tidak tahu, kegaiban Imam Mahdi atau konsep raj’ah dalam pemahaman Syiah berbeda dengan konsep-konsep dalam kepercayaan lain. Selain karena pemahaman Islam Syiah itu didasarkan atas interpretasi Alquran dan hadis Nabi Saw, juga karena alas an historis. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa seolah-olah Islam Syiah menyerupai ajaran Sai Baba, sementara ajaran sempalan di dalam tradisi Hindu ini sendiri lahir 14 abad setelah kehadiran Islam? Jikapun memang ada kemiripan, mestinya dikatakan Sai Baba menyerupai atau mengambil ajaran mazhab Islam Syiah, bukan sebaliknya! Dalam hal “pencontekan” ini, kita sama sekali tidak bisa menyalahkan Islam yang dicontek oleh siapapun.Persamaan tidak mesti sebuah kesamaan. Jika Benjamin Netanyahu sebagai perdana mentri Israel menerima keabsahan demokrasi di dalam proses pemerintahan, pada saat yang sama Ilham Kadir juga menerima hal yang sama seperti yang ditulisnya ketika menjelaskan tentang ketaatan kepada Imam; hanya orang yang pendek akal yang akan mengatakan bahwa Ilham Kadir sama dengan Benjamin Netanyahu. Walau mungkin tentu saja, ada kemiripan-kemiripan di dalam kepercayaan dan penerimaan tersebut.Menghina Ulama Sulawesi Selatan dan IndonesiaDalam tulisan tersebut, Ilham Kadir menyebut bahwa orang yang tidak menerima terangnya kesesatan Syiah adalah sufaha. Beliau juga mengindikasikan bahwa kelompok sufaha dalam konteks ini juga tumbuh menjamur di Makassar. Beliau mengatakan “Para sufaha di Indonesia tak terkecuali Makassar kian tumbuh seakan tak terbendung”. Penulis LPPI Said Samad ini kerap menggunakan istilah sufaha untuk mencela orang yang tidak menerima pemahaman mereka. Padahal, seperti yang kami katakan di atas, sepertinya beliaulah yang lebih tepat disebut sufaha.Inilah kekurangajaran yang sangat nyata dari seorang penulis seperti Ilham Kadir. Bagaimana tidak, secara terang-terangan, dia telah menghina dan menyebut ulama-ulama dan guru-guru besar di Makassar secara khusus dan Indonesia secara umum sebagai sufaha. Apa pasal? Ilham memaksakan pendapat bahwa Islam Syiah sesat, dan bahwa siapa yang masih menerimanya, maka mereka adalah sufaha. Artinya, dia telah menyebut sufaha AGH Sanusi Baco, AGH Quraish Shihab, Prof Ahmad Sewang, Prof Kamaruddin Amin, AGH Mustamin Arsyad, Prof Ghalib, Sayyid Abdurrahim Assegaf Puang Makka, KH Sahib Karaeng Nompo, dan semua ulama dan tokoh di Sulsel secara khusus dan Indonesia secara umum yang ratusan dari mereka menyebut Syiah itu bagian dari Islam. Lalu apakah kaum muslimin bisa menyandarkan pendapat mereka kepada segelintir orang selevel Ilham Kadir ini yang tidak menghargai dan telah melecehkan pewaris para Nabi?Kita berprasangka baik saja. Mungkin saja Ilham Kadir berniat baik untuk mengambil peran di dalam amar ma’ruf nahi munkar. Hanya saja, entah karena alasan apa, beliau selalu menutup diri dari kebenaran yang disampaikan oleh ulama Islam yang berkompeten. Hanya saja, sangat sering Ilham melupakan akhlak karimah di dalam diskusi dan dialog. Yang nampak adalah kesombongan, dan tidak jarang menghina ulama seperti kasus di atas. Dan kaum muslimin harus berlepas diri dari mereka-mereka yang tidak bersedia mewarisi akhlak Muhammad dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar

Entah apa yang telah merasuki penulis tetap di situs LPPI Asuhan Said Samad, Ilham Kadir, hingga kemarin, 4 Desember, beliau menurunkan lagi sebuah tulisan lucu bertajuk “Sai Baba dan Ideologi Syiah Imamiah”. Seakan tak kehabisan akal untuk mencaci maki mazhab Islam Syiah, beliau berusaha mencocok-cocokkan Antara ajaran Sai Baba dari India, dengan salah satu mazhab besar di dalam Islam ini. [lppimakassar.net]Jika pada tulisan sebelumnya Ilham Kadir menyebut pengikut Syiah sebagai jahil murakkab, bodohnya orang bodoh, atau bodoh kuadrat, kali ini dia menembak orang yang menganggap Syiah itu sebagai bagian dari Islam. Dia mengatakan bahwa kesesatan Syiah sudah sangat terang, seterang mentari di hari cerah, seraya mengatakan bahwa  yang mengingkarinya adalah sufaha, kelompok yang sudah mengetahui kebenaran tetapi tetap menolaknya. Dengan demikian, penulis kelahiran Bone Sulsel ini telah menghina ulama seperti AGH Quraish Shihab, AGH Sanusi Baco, Prof Ahmad Sewang, Prof Kamaruddin Amin, AGH Mustamin Arsyad, Prof Ghalib, Sayyid Abdurrahim Assegaf Puang Makka, KH Sahib Karaeng Nompo, dan puluhan ulama di Sulawesi Selatan. Itu belum termasuk ratusan ulama di seluruh Indonesia bahkan ribuan di seluruh dunia.Ajaran Islam Syiah Tidak Sama Dengan Ajaran Sai BabaSungguh kebodohan yang nyata ketika Ilham Kadir menyamakan Islam Syiah dengan kepercayaan yang diajarkan oleh Sai Baba. Simplifikasi yang dilakukan seperti ini lahir dari keputusasaan atas hujjah. Hal itu juga lahir dari kebodohan melihat realitas dan membaca penjelasan ajaran. Atau kemungkinan yang paling mungkin, Ilham Kadir ketika menyebut sufaha, pada dasarnya beliau sedang menyebut diri sendiri. Artinya, sebenarnya beliau telah melihat kebenaran yang ada pada ajaran mazhab ahlulbait sebagaimana yang dilihat oleh ulama-ulama Sulsel (hanya sebagai contoh kecil saja), namun karena kesombongan, atau mungkin ada alasan lain, maka dia tetap menolak kebenaran itu. Menggunakan logika sederhana saja, betapa banyak ulama berkompeten di Sulsel yang mengatakan bahwa mazhab Syiah adalah bagian dari Islam, dan bahwa perbedaan Sunnah Syiah hanya perbedaan furu’ saja dan bukan yang hakiki. Lalu apakah kata-kata segelintir orang, termasuk Ilham Kadir dan Said Samad mesti kita dengar? Tentu saja kita tetap harus mendengar, namun harus kita garis bawahi bahwa mereka berdua, andaipun berkompeten, maka kompetensi mereka tentu masih sangat jauh dibandingkan dengan para professor dan ulama sepuh yang kami sebutkan di atas.Ilham Kadir menyebut kembali beberapa isu-isu yang sering dikritik di dalam ajaran Syiah dan menyebutnya sama dengan ajaran Sai Baba, misalnya konsep kegaiban dan raj’ah. Perlu diketahui, kedua konsep tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh ulama muktabar dari kalangan mazhab Syiah, tidak seperti yang dijelaskan oleh Ilham Kadir tersebut. Di dalam buku “Sunnah Syiah Bergandengan Tangan Mungkinkah” yang ditulis oleh AGH Quraish Shihab, pakar tafsir asal Sulsel ini menjelaskan masalah raj’ah di dalam keyakinan mazhab Syiah secara khusus di bab 10 pada halaman 185. Disitu AGH Quraisy, mengutip pendapat ulama Syiah mengenai hal tersebut seraya mengatakan bahwa, sebagaimana dengan kepercayaan hadirnya Nabi Isa as dan Imam Mahdi yang diyakini oleh sebagian pengikut ahlussunnah, percaya atau tidak percaya kepada raj’ah tidak mencederai akidah Islam seseorang (hal. 187)Usaha putus asa Ilham Kadir untuk menyamakan Antara ajaran Syiah dengan Sai Baba bisa disebut lahir dari amnesia teologis, historis dan sosiologis atas ajaran dan sejarah Islam. Dia lupa, atau kemungkinan besar tidak tahu, kegaiban Imam Mahdi atau konsep raj’ah dalam pemahaman Syiah berbeda dengan konsep-konsep dalam kepercayaan lain. Selain karena pemahaman Islam Syiah itu didasarkan atas interpretasi Alquran dan hadis Nabi Saw, juga karena alas an historis. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa seolah-olah Islam Syiah menyerupai ajaran Sai Baba, sementara ajaran sempalan di dalam tradisi Hindu ini sendiri lahir 14 abad setelah kehadiran Islam? Jikapun memang ada kemiripan, mestinya dikatakan Sai Baba menyerupai atau mengambil ajaran mazhab Islam Syiah, bukan sebaliknya! Dalam hal “pencontekan” ini, kita sama sekali tidak bisa menyalahkan Islam yang dicontek oleh siapapun.Persamaan tidak mesti sebuah kesamaan. Jika Benjamin Netanyahu sebagai perdana mentri Israel menerima keabsahan demokrasi di dalam proses pemerintahan, pada saat yang sama Ilham Kadir juga menerima hal yang sama seperti yang ditulisnya ketika menjelaskan tentang ketaatan kepada Imam; hanya orang yang pendek akal yang akan mengatakan bahwa Ilham Kadir sama dengan Benjamin Netanyahu. Walau mungkin tentu saja, ada kemiripan-kemiripan di dalam kepercayaan dan penerimaan tersebut.Menghina Ulama Sulawesi Selatan dan IndonesiaDalam tulisan tersebut, Ilham Kadir menyebut bahwa orang yang tidak menerima terangnya kesesatan Syiah adalah sufaha. Beliau juga mengindikasikan bahwa kelompok sufaha dalam konteks ini juga tumbuh menjamur di Makassar. Beliau mengatakan “Para sufaha di Indonesia tak terkecuali Makassar kian tumbuh seakan tak terbendung”. Penulis LPPI Said Samad ini kerap menggunakan istilah sufaha untuk mencela orang yang tidak menerima pemahaman mereka. Padahal, seperti yang kami katakan di atas, sepertinya beliaulah yang lebih tepat disebut sufaha.Inilah kekurangajaran yang sangat nyata dari seorang penulis seperti Ilham Kadir. Bagaimana tidak, secara terang-terangan, dia telah menghina dan menyebut ulama-ulama dan guru-guru besar di Makassar secara khusus dan Indonesia secara umum sebagai sufaha. Apa pasal? Ilham memaksakan pendapat bahwa Islam Syiah sesat, dan bahwa siapa yang masih menerimanya, maka mereka adalah sufaha. Artinya, dia telah menyebut sufaha AGH Sanusi Baco, AGH Quraish Shihab, Prof Ahmad Sewang, Prof Kamaruddin Amin, AGH Mustamin Arsyad, Prof Ghalib, Sayyid Abdurrahim Assegaf Puang Makka, KH Sahib Karaeng Nompo, dan semua ulama dan tokoh di Sulsel secara khusus dan Indonesia secara umum yang ratusan dari mereka menyebut Syiah itu bagian dari Islam. Lalu apakah kaum muslimin bisa menyandarkan pendapat mereka kepada segelintir orang selevel Ilham Kadir ini yang tidak menghargai dan telah melecehkan pewaris para Nabi?Kita berprasangka baik saja. Mungkin saja Ilham Kadir berniat baik untuk mengambil peran di dalam amar ma’ruf nahi munkar. Hanya saja, entah karena alasan apa, beliau selalu menutup diri dari kebenaran yang disampaikan oleh ulama Islam yang berkompeten. Hanya saja, sangat sering Ilham melupakan akhlak karimah di dalam diskusi dan dialog. Yang nampak adalah kesombongan, dan tidak jarang menghina ulama seperti kasus di atas. Dan kaum muslimin harus berlepas diri dari mereka-mereka yang tidak bersedia mewarisi akhlak Muhammad dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar

...

Close